, ,

Makassar Dalam Balutan Budaya Asing

Makassar merupakan ibukota dari provinsi Sulawesi Selatan, yang biasa disebut kota Angin mammiri atau kota Daeng. Kota yang memegang filosofi "siri na pacce", namun dalam prakteknya sekarang ini filosofi itu sudah mulai pudar oleh budaya barat yang sudah menggeser adat lokal. Sebuah kota yang mulai tumbuh menjadi kota metropolitan tidak akan lepas dari pergeseran budaya, budaya yang dipegang oleh penduduk asli. Resiko menjadi ibu kota provinsi adalah menjadi tujuan para pencari kerja dan para pencari ilmu. Tidak heran makassar menjadi tujuan utama dalam mencari pekerjaan karena ada ribuan perusahaan yang ada di makassar, dan juga ada puluhan universitas yang menanti pelajar-pelajar untuk melanjutkan pendidikannya. Makassar tidak hanya menjadi sentral untuk daerah di sulawesi selatan, namun juga merupakan pintu gerbang indonesia timur. Sehingga peran makassar dalam perekonomian, budaya, pendidikan menjadi kiblat bagi daerah-daerah di indonesia timur.

Pergeseran budaya yang terjadi dimakassar tidak lepas dari masuknya perusahaan-perusahaan multinasional, dan turis-turis mancanegara yang memaksa makassar harus menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi mereka. Pergeseran itu menyebabkan warga asli menjadi tersisihkan ke pinggir ibu kota, atau menetap dan ikut perkembangan zaman. Gedung-gedung tinggi, rumah-rumah mewah, apartemen, mall, dan bioskop menjadi bukti makassar telah masuk dalam balutan dunia barat. Dunia yang menjadikan budaya hanya simbol belaka, budaya hanya bisa menjadi sejarah atau hanya melengkapi musium-musium yang kurang peminatnya. Generasi muda sekarang lebih suka nonton sinetron yang tidak mendidik yang lebih menampilkan kekerasan, kemalasan, dan seksualitas. Ibu-ibu di hipnotis denga  serial drama asing, dan tidak memberikan pemahaman tata krama, adat istiadat, dan budaya kepada anaknya.

Makassar yang pernah disebut kota daeng, kota angin mammiri akankah nama itu masih akan melekat?. Akankah nama itu masih disebut?. Atau itu akan menjadi sekedar kenangan atau sejarah yang hanya mengiasi musium yang tidak ada pengunjungnya. Kasian kalian yang tidak merasakan makassar yang sesungguhnya. Makassar masih belum bisa seperti Denpasar Bali yang masyarakatnya begitu plurar sehingga balutan budaya asing seimbang dan serasi dengan budaya disana. Untuk menerapkan konsep kota dunia yang menjadikan makassar semakin megah dan gemerlap namun tidak menyisihkan budaya dan adat setempat itu menjadi sebatas wacana dan mimpi disiang bolong. Perdebatan dan diskusi selalu diperbincangkan bagaimana cara makassar menjadi kota dunia tanpa meninggalkan budaya asli daerah, banyak konsep dan pemikiran yang disalurkan namun belum dieksekusi secara baik oleh pemerintah dan oleh tokoh masyarakat.

Terlepas dari itu semua makassar masih menjadi primadona bagi pencari kerja dan para pelajar untuk merubah nasib. Hingar bingar makassar, lalu-lalang kendaraan yang tiap hari bertambah jumlahnya membuat makassar menjadi padat dan semrawut identik kota metropolitan. Banyaknya orang membuat makassar harus berbenah dengan cepat sehingga masyarakat yang tinggal di dalamnya dan di sekitarnya menjadi nyaman dan aman. Segala persoalan kota metropolitan harus diselesaikan dengan segera agar tidak menjadi gangguan yang berarti, gesekan antar etnis dan golongan juga kerap menjadi suatu masalah yang dihadapi oleh makassar. Mudah-mudahan makassar menjadi kota yang kita idamkan semuanya tanpa meninggalkan sejarah budaya yang selama ini melekat. Makassar kota daeng, makassar kota angging mammiri, makassar kota dunia, makassar pintu gerbang indonesia timur.